by

Winda Tampilkan Karya Tari Tudong *Di ISI Padang

LINGGA (HK)- Seorang mahasiswi asal Kabupaten Lingga, Winda Karina (22) menampilkan suatu karya tari yang cukup unik saat mengikuti ujian akhir skripsinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.

Winda bersama kelompoknya mempresentasikan sebuah karya yang diangkat dari budaya lokal di Lingga, yakni Tudong Manto.

Tudong Manto sendiri merupakan kelengkapan pakaian adat perempuan Melayu Daik, berupa kain tipis penutup kepala yang terbuat dari berbagai jenis kain seperti kase, kain sifon, kain sari, dan kain sutera dengan warna tertentu seperti kuning, merah, putih, hitam, dan merah.

Tudong Manto juga sudah ditetapkan Kemendikbud sebagai warisan yang di miliki oleh Kabupaten Lingga.

Kepada wartawan, Winda mengaku, karya yang dibuatnya itu berangkat dari kecintaannya terhadap budaya lokal. Kemudian sekaligus melestarikan dan memperkenal karya Tudung Manto.

Ia melihat eksistensi Tudong Manto saat ini semakin diminati oleh pembeli khususnya masyarakat Daik Lingga, bahkan masyarakat di luar wilayah Kepulauan Riau.

Namun seiring perkembangan zaman dan biaya produksi yang semakin tinggi, menjadikan Tudung Manto sulit dijangkau pembeli. Sehingga berdampak pada kurangnya pesanan.

“Jadi kami mencoba menginterpretasikan upaya dari kelangkaan itu melalui wujud karya tari yang berjudul ‘Tudong’. Karya ini kami buat menggunakan empat buah properti yang berbentuk segi empat, segi tiga, jajar genjang, dan segi panjang yang terbuat dari kayu yang bisa dimasuki oleh penari di dalamnya serta menggunakan properti tali, agar dapat membangun suasana bagian pada karya. Karya ini menggunakan enam orang penari perempuan,” terangnya.

Menurut Winda, Karya Tudong yang dibuatnya telah melewati berbagai tahapan. Hampir dua bulan proses penggarapan karya di garap, mulai dari pengajuan konsep hingga direalisasikan kedalam bentuk karya dengan memberikan pesan bahwa pentingnya mempertahankan budaya lokal sebagai ciri khas (identitas budaya).

Karya ini sendiri dikatakan Winda didukung oleh 30 orang tim produksi dan 6 orang penari serta 10 orang pemusik. “Alhamdulillah pada saat selesai tampil, apresiasi datang dari para dosen penguji,” ujarnya.(jfr)

Comment

News Feed