by

Polemik Keterbatasan Ruangan dan Guru

SAGULUNG (HK) – Meski proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) siswa/i di kota Batam sudah rampung, akan tetapi kebijakan pelaksanaan PPDB menyisakan sejumlah persoalan, diantaranya keterbatasan ruangan belajar dan ketersedian guru.

Berdasarkan informasi yang didapat di beberapa beberapa SMPN di wilayah Sagulung dan Batuaji, seperti halnya di SMPN 11 Batam, Batuaji dan SMPN 9 Batam, Sagulung. Dimana kondisi kegiatan proses belajar mengajar belum berjalan maksimal. Karena ruang kelas terlalu sesak karena melebih daya tampung.

Dimana setiap kelasnya diisi oleh 40 siswa sebagaimana acuang Perwako tentang daya tampung per kelas yang disepakati sebagai upaya menampung siswa baru yang membludak. Padahal dalam Permendikbud No 51 tahun 2018 setiap kelasnya maksimal diisi 36 siswa.

Kepala Sekolah SMPN 9 Batam, di Sagulung, Eny Murtiyastuti menyampaikan, kalau mengacu pada Permendikbud No 51 tahun 2018 kalau satu kelas diisi 36 siswa. Namun, setelah kebijakan yang rundingkan dengan Walikota Batam agar siswa zonasi ini tertampung, maka aturan yang dipakai adalah aturan Perwako satu lokal diisi 40 siswa.

“Mau bagaimana lagi. Inilah kondisi saat ini bahwa satu kelas itu sebanyak 40 siswa. Bahkan untuk mengisi daya tampung calon siswa yang membludak ini dipakai acuan Perwako Batam,” katanya ke Haluan Kepri, Rabu (24/7) siang.

Ia juga mengatakan, untuk proses PPDB tersebut, pihaknya pun menampung sebanyak 440 siswa yang diisi 11 rombongan belajar (Rombel). Jadi perkelas itu diisi sebanyak 40 siswa.

“Dengan hal itu, memang tentu ada kesulitan tersendiri bagi guru untuk mengajar siswa dengan jumlah segitu,” tambahnya lagi.

Memang, masih kata Eny, pada PPDB tahap awal pihaknya hanya menampung sebanyak 324 siswa yang dibagi 9 lokal. Namun setelah kebijakan dari Walikota dan Dinas Pendidikan kota Batam, maka penambahan siswa menjadi 440 siswa. Dan secara otomatis kelas juga akan bertambah menjadi 11 kelas.

Untuk bisa mengkondisikan proses belajar mengajar lebih efektif, maka pihak sekolah pun membagi jadwal untuk kelas VIII dan IX di laboratorium komputer dan gedung serbaguna. Apalagi kondisi saat ini jika beberapa bangunan sekolah dalam tahap renovasi hingga bulan Desember mendatang bisa digunakan lagi.

“Untuk mengakomodir agar proses belajar mengajar berjalan lebih efektif, sementara waktu kita pergunakan gedung serba guna untuk siswa kelas VII, bercampur dengan ruang majelis guru,” jelasnya.

Ia pun menambahkan, untuk mensiasati agar proses belajar lebih efektif lagi, pihaknya memberlakukan sistim ekstra kulikuler untuk pengembangan diri dan kelompok belajar.

“Jadi meningkatkan prestasi para siswa, kami pun langsung membuat pengembagan diri melalui ekstrakulikuler dan kelompok belajar. Dan ini sudah menjadi langkah dari pihak kami,” tutupnya. (ded)

Comment

News Feed