by

Bobby Jayanto Dipanggil Ulang

TANJUNGPINANG (HK)- Tim penyidik Satreskrim Polres Tanjungpinang kembali melakukan pemanggilan ulang kepada Bobby Jayanto untuk dilakukan pemeriksaan, terkait dugaan kasus tindak pidana tentang ras dan etnis (Rasis) yang dilontarkannya dalam acara di Kelenteng, Jalan Plantar 2 Kecamatan Tanjungpinang Kota beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, polisi telah dua kali melakukan pemanggilan terhadap Ketua DPD Partai Nasdem Kota Tanjungpinang tersebut untuk dilakukan pemeriksaan. Namun dengan alasan sakit dan tengah melakukan kegiatan di luar daerah, sehingga tidak bisa memenuhi panggilan tersebut.

“Kami telah melayangkan surat panggilan kembali, agar yang bersangkutan (Bobby Jayanto-red) untuk bisa hadir guna dilakukan pemeriksaan pada Kamis, 25 Juli 2019,” kata Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi melalui Kasat Reskrim AKP Efendri Alie, Selasa (23/7).

Menyikapi adanya informasi pencabutan laporan oleh pihak pelapor, Kasat Reskrim ini menyatakan, masih terus melakukan proses penyidikan dugaan kasus Rasis tersebut.

“Proses penyidikannya masih terus berlanjut,”ujar Alie.

Sejauh ini polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk saksi ahli bahasa dan juga Boby Jayanto sendiri untuk dilakukan pemeriksaan awal sebelumnya,

Dalam perkara tersebut, Satreskrim Polres Tanjungpinang juga telah melayangkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang tanpa mencantumkan tersangkanya (no nime-red).

“SPDP dugaan kasus tersebut sudah kita terima dari penyidik Polres Tanjungpinang sejak, Senin (1/7) lalu, Namun dalam SPDP tersebut belum ada nama tersangkanya,” kata Kepala Kejari Tanjungpinang, Ahelia Abustam SH MH melalui Humas sekaligus Kasi Intel, Rizky Rahmatullah SH.

Rizky menerangkan, SPDP tersebut sifatnya baru sebatas pemberitahuan dimulainya suatu penyidikan perkara oleh penyidik Polres Tanjungpinang, sehingga tidak perlu dicantumkan adanya nama siapa pihak yang disangkakan. “Sifatnya baru sebatas pemberitahuan adanya proses penyidikan. dan tidak ada nama tersangkanya. KIta lihat saja bagaimana perkembangan penanganan dugaan perkara tersebut nantinya,” ujar Rizky.

Sekedar diketahui, dugaan Rasis dan diskriminasi etnis oleh Bobby Jayanto tersebut muncul pada saat ia berpidato dengan bahasa Tionghoa yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia, adanya dugaan penyebutan bahasa kulit hitam dan kulit putih pada kegiatan perayaan sembahyang keselamatan di Pelantar 2 Tanjungpinang.

Ucapan Bobby tersebut juga diduga berkaitan pencalegkan dirinya sebagai anggota DPRD Kepri sehingga ia dipilih oleh masyarakat pendukungnya pada Pemilu 2019 lalu. Ucapan Bobby itu juga dikabarkan sempat viral dibeberapa media sosial lokal, hingga akhirnya dilaporkan oleh beberapa LSM dan Oramas ke Mapolres Tanjungpinang. Laporan Polisi Nomor: LP-B/82/VI/2019/KEPRI/SPKT-Res TPI tanggal 11 Juni 2019 tersebut terkait perkataan Bobby yang diduga telah mengundang unsur sara.

Dugaan diskriminasi ras dan etnis itu juga terekam video yang berdurasi sekitar 16 menit lebih, dan sempat viral di media sosial Facebook dan Whatsaap. Video itu diketahui dalam bahasa Thionghoa. Menurutnya, perkataan Bobby tersebut sudah masuk ke dalam rasis dan dapat meresahkan masyarakat, sehingga pihaknya bersama beberapa organisasi Melayu yang beradat tidak mau bertindak anarkis dan terpaksa melaporkan hal itu ke penegak hukum supaya dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.

Dalam laporanya ke Polisi, Bobby Jayanto diduga melanggar pasal 16 huruf (b) angka (2) UU RI nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta. (nel)

Comment

News Feed